![]() |
| sumber gambar : www.merdeka.com |
penulis : Dhima Wahyu Sejati
darwisfoundation.com - 17 April sudah lewat. Sekarang tinggal menunggu hasil
real count KPU. Saya sarankan jangan melihat quick count, pasti bingung.
Sebab seperti lima tahun lalu, semuanya mengklaim kemenangan masing-masing.
Mari sejenak mengalihkan lirikan. Jangan hanya genit ke
Prabowo dan Jokowi, tapi juga para caleg (calon legeslatif) kita. Saya mereasa,
pemilihan caleg tidak begitu signifikan. Para pemilih tidak begitu mengenal
caleg mereka. Apa arti mencoblos jika tidak kenal. Harusnya ada pepatah “tak
kenal, maka tak usah coblos”. Ah jangan, nanti malah golput.
Terlalu banyak caleg, membuat pemilih susah mengenali siapa
bakal caleg mereka. Apalagi kertas suara terlalu besar, alhasil, pemilihan
caleg dianggap tidak terlalu penting.
Sekarang, bagaimana para caleg ini mengambil suara pemilih,
ini sulit. Media massa, terutama media mainstream (media arus utama) didominasi
oleh Jokowi, mengingat para pemiliknya berkoalsi dengan kubu pertahana. Ruang
untuk caleg tidak ada, apalagi biaya pasang iklan di media cukup mahal.
Sekalipun mampu, itu dianggap tidak cukup efektif. Kenapa ?
Toh, jika memasang iklan di TV nasional, rakyat hanya
tahu dirinya nyaleg, tapi belum tentu rakyat memilih si caleg ini.
Apalagi caleg di daerah-daerah, lebih tidak efektif lagi, untuk apa memasang
iklan di TV nasaional padahal targetnya hanya di daerah, mubazir.
Maka dengan cara apa ? dengan logika apa supaya si caleg
dapat meraup suara ?
Logika Kapital dan Delusi Politik
Saya tidak berangkat dari teori terkemuka soal kapitalisme
atau teori-teori postmodernisme. Saya hanya ingin berangkat dari pengalaman.
Kebetulan saya dipercaya sebagai panitia penyelenggara
pemilu di desa. Dengan sadar, pasti akan berat, saya mengiyakan beban ini. Pengalaman
pertama saya terlibat langsung dalam prosesi pemungutan suara di TPS.
Bagi orang awam seperti saya, rasa-rasanya heran ketika melihat
tingkah laku pemilih dan orang-orang partai di desa. Psikis pemilih
terasa tidak bebas, seakan ada kebingungan hendak memilih siapa. Bukan apa-apa,
karena kertas suara calon anggota dewan yang besar. Para pemilih ini bingung
mana orang yang memberikan amplop kemarin sore. Kalau sampai salah, nanti malam tidak bisa tidur.
Prinsip dan mental bakal caleg dan pemilih kita selalu sama.
Mental pedagang. Untung rugi dihitung dengan ukuran materi, selama ada uang
pasti beres. Setiap orang punya hak suara, jika ada yang membeli, kenapa tidak
dijual ? toh, dapet untung. Begitu kirinya
pola pikir para pimilih.
Tentu saja saya tidak menyalahkan pemilih. Namun mental
seperti ini cukup mencederai demokrasi. Sekaligus mengecewakan saya yang rela tidak tidur untuk mengurus pemilu serentak ini. Bagaimana dengan caleg yang baik – pun kalau
masih ada-, tapi tidak memberikan amplop. Apakah akan dipilih ? mungkin tidak.
Psikis para celeg juga sama. Mereka mengira ini perang
dagang. Siapa yang punya modal, maka dapat dipastikan menang. Yang penting
sebelum nyaleg harus riset pasar dulu, kira-kira daerah mana yang harus diberikan amplop dan mana yang tidak perlu. Jika sudah pasti basis
massa kenapa harus dihujani amplop, kan ?
Logika kapital ini
dipakai dan diterima oleh caleg maupun pemilih. Ini juga barangkali jawaban
kenapa masih banyak politik uang di desa-desa. Mengakar kuat, susah untuk
ditumbangkan.
Jujur saja, saya cukup kaget mendengar pernyataan Linmas
yang bertugas bersama saya di TPS. Ketika saya datang lalu menyalami, kami
bincang-bincang santai. Entah awalnya bagaimana, Limnas ini menceritakan berita
di TV yang terkena OTT akibat serangan fajar.
Yang menjadikan saya heran adalah tanggapan si Linmas ini. “Itu
lo mas, banyak yang kena OTT. Hahaha…. Sebenarnya yaa gak masalah, di kasih
uang ya gpp. Tapi yang geger ii justru atasan-atasan itu lo”. Kami cukup
santai membicarakan hal ini.
Saya tidak menemukan gestur bercanda ketika si Linmas ini
menjelaskan soal OTT. Itu semakin membuat saya kawatir. Ini artinya masalah ‘politik
uang’ menjadi hal biasa. Keburukan yang dilakukan terus menerus menjadi biasa. Sangking
dianggap biasa, orang mengira ini sebuah kebenaran. Fenomena ini bisa kita sebut seabagai
“delusi”. Atau dalam konteks politik sebut saja “delusi politik”.
Delusi politik menyebabkan kondisi psikis pemilih yang linglung.
Hingga berada pada pengaruh kolegtif dimana orang-orang memang menjual suaranya
dalam pasar gelab pemilu. Kita tahu bersama, ketika sebuah kegiatan dilakukan
secara kolegtif, akan memudarakan tanggungjawab dan rasa beralah jika itu hal
yang buruk.
Delusi politik ini menjadi prahara yang redub di pemilu. Caleg
dan pemilih juga akhirnya terkena delusi politik. Saya hanya bisa berdoa,
semoga Tuhan menghindarkan saya dari delusi politik yang berkepanjangan ini. Semoga
kita semua tetap bisa berpegang pada standar moral yang tinggi.
