Foto : para mahasiswa melaukan aksi damai di Gedung DPRD Surakarta (24/9) | darwisfoundation/Ginanjar Agung Sulistyo




oleh Linda Rahmawati


darwisfoundation.com - Semenjak keluarnya RKUHP saya hanya mnegikuti dari berbagai berita-berita yang beredar. Memahami dan mengkaji secara perlahan hingga akhirnya bertemu titik terang. Banyak sekali aksi dari kawan-kawan mahasiswa dari berbagai daerah. Di Yogyakarta 23 Septeember 2019, #GEJAYANMEMANGGIL merupakan aksi damai yang sangat patut diapresiasi. Aksi berjalan damai tertib, menjadi trending di dunia twitter.

Pada 24 September ini, Solo juga menjadi saksi perjuangan dari kawan-kawan mahasiswa dalam membela rakyat. Dari dua arah pejuang datang dan bersatu di depan kantor DPRD Surakarta. Hal menarik saat saya berjalan mencari parkiran motor. Terdengar suara bapak-bapak mengajak masyarakat lain utuk “kawal pak kawal”. Saya kaget juga ada masyarakat yang sadar pula dengan aksi ini. Dengan senang hati sekali mendengar cletukan tersebut ditengah macetnya jalan.

Semua berjalan menyenangkan dan tertib. Seruan yang dituliskan tak luput dari perhatian. Tidak sedikit yang menuliskan aspirasinya dengan gaya masing-masing. Jika ada yang berfikir tulisan-tulisan ini hanya untuk instastory. Tidaklah salah mengapa mahasiswa menuliskan aspirasi nyeleneh dengan gayanya. Karena memang hal itu yang dirasakan dan bisa mereka utarakan. Dengan bumbu baper dan secercik kata kotor membuatnya lebih membara dan dekat. Bentuk ekspresi diri seseorang berbeda-beda. Bukan hanya membuka mata dan fikiran saja. Justru dengan keanekaragaman dan keunikan tulisan kawan-kawan memberi warna pada aksi #BENGAWANMELAWAN kali ini.

Ini pertama kalinya saya mengikuti sebuah aksi. Karena selama ini hanya mengkuti dari media masa saja. Cuaca panas yang membakar kulit, cucuran keringat yang tak henti-henti. Sesak sekali rasanya berada ditengah-tengah banyak orang. Namun hal ini saya pilih karena saya secara pribadi tidak tahu hal apa yang harus saya lakukan.

Di tengah keresahan saya dengan pasal-pasal ngawur yang telah ditetapkan. Selama ini saya hanya berada diruangan dan melihat kawan-kawan di berbagai daerah turun kejalan. Akhirnya ada kesempatan untuk membersamai kawan-kawan dalam aksi. Kesempatan ini tidak mungkin  di sia-siakan untuk mahasiswa yang khususnya berdomisili di Solo. Takut, tentu saja semua berteriak tanpa ada getar dengan tatapan tajam. Semua tertuju pada tuntutan yang sama. Aksi ini saya lakukan dengan sadar dan mendasar.

Semua terasa jelas ketika saya berdiri disebelah kiri gedung DPR dengan jarak yang cukup dekat. Banyak sekali triakan-triakan tak semestinya dilontarkan. Kata-kata kasar terdengar dimana-mana. Hal itu menurut saya wajar-wajar saja, karena mahasiswa sudah sangat geram. Namun tak sedikit pula oknum-oknum yang memprovokasi aksi. Para mahasiswa tak pernah berhenti untuk saling mengingatkan dengan yel-yel “hati-hati hati-hati hati-hati provokasi…”. Hingga akhirnya datang sebuah mobil komando untuk aksi. Mereka berorasi dengan lantangnya, para mahasiswa mengikuti komando yang ada. Semua ada pada satu komando.

Langit-langit kota solo diwarnai dengan berbagai bendera. Berwarna-warni bukan hanya bendera universitas saja namun juga ada bendera beberapa ormawa (organisasi mahasiswa) eksternal kampus. Kobaran ini membuat saya sedikit sedih sebenarnya. Tidak salah membanggakan salah satu ormawa eksternal kampus. Namun disini dengan sadar saya datang sebagai mahasiswa Indonesia. Bukankah kita turun ke jalan untuk memperjuangakn kepentingan rakyat ?

Sangat disayangkan ada beberapa titik yang belum bisa membaur dan masih mengibarkan bendera masing-masing. Salahkah mengibarkan bendera ditengah aksi? Oh tentu tidak. Wajar-wajar saja, kebebasan berekspresi itu ada dan boleh. Alangkah baiknya semua benar-benar bersatu melebur bersama. Tanpa membawa apa-apa selain identitas mahasiswa. Dengan pengetahuan dan tuntutan yang jelas diutarakan bersama. Mewarnai birunya langit Solo dengan kibaran bendera merah puti dan kepalan tangan dijalan.

Intruksi mengatakan “duduk kawan”. Kemudian sebagain duduk di bawah aspal panas. Tidak sedikit pula kejadian lucu di tengah kerumunan. Ada beberapa kawan berdesakan ingin maju ke depan. Terdengar cletukan pas di samping saya “Ya ga bisa jalan, itu malah pada duduk semua”. Kujawab dengan nada sedikit tinggi “memang intuksinya untuk duduk mbak”.

Tidak habis fikir saya, saya hanya diam, dan positif thingking. Bisa saja mbaknya tidak dengar apa yang telah diintruksikan. Karena memang keterbatasan sound yang digunakan. Sehingga orasi tidak terdengar jelas jika berada jauh dari sumber suara.

Sedikit kembali terlebih dahulu pada saat berjalan menuju gedung DPRD. Kudengar “ini mau ke gedung DPRD, mana si gedungnya”. Hanya melihat orang tersebut dan merasa sedikit berbesar hati. Karena posisi kami  sudah sampai kantor DPRD.

Ada lagi saat para mahasiswa membawa kantong berisikan sampah. Datanglah dua orang mahasiswi dan seorang mahasiswa dan meminta izin, “mas saya boleh pinjem kantongnya, buat foto mas tugas kampus”. Wow saya dan teman hanya geleng-geleng kepala, dan dia sampai berkata sedikit kasar.

Tidak dipungkiri, sebagian dosen dan kampus memang mendukung aksi. Bahkan untuk mahasiswa dan mahasiswi dipersilahkan turun kejalan. Justru hal ini menjadi turun bersyarat kehadiran kelas. Beberapa dosen murni meminta mahasiswa melakukan aksi. Ada juga sebagian dosen memberikan syarat, seperti memunguti sampah agar lingkungan tetap bersih. Foto saat aksi berlangsung sebagai bukti. Namun hal ini tidak juga seratus persen salah. Karena bagaimanapun mereka sudah mau turun kejalan untuk membersamai meskipun ada secarcik kepentingan untuk diri sendiri.

Melihat para kawan-kawan datang dan berkumpul ada beberapa tingkah lucu lainnya. Dari sikap dan bagaimana mereka berada di kerumunan. Ada kawan-kawan yang berada di barisan terdepan, dengan sepenuh hati berjuang. Lalu ada kawan-kawan yang sedikit mundur ke belakang sehingga tetap mengawal. Ada juga yang di belakang dan hanya foto-foto doang, hingga ada yag berteriak “okeh sing (banyak yang) pansos (panjat sosial)”.

Wow luarbiasa sekali, namun pada kondisi ini apa yang salah. Tidak seharusnya memandang orang-orang berfoto ditengah kerumunan sebagai pansos. Tidak seharusnya memandang mahasiswi dengan skincare mahal ikut ke jalan. Pansos tidaklah salah, hal itu sah-sah saja. Mungkin mereka melakukannya untuk sekedar diupload ke media sosial. Memenuhi story WA. Memberitahukan keadaan yang ada, seperti ini lho kondisinya. Alangkah baiknya memandang semua hal dengan fikiran terbuka dan tenang. Apa salanya pansos? Apa salahnya mereka memilih jalan itu untuk menyampaikan.

Ada lagi yang menarik. Mereka yang memiliki jiwa wirausaha, sangat pandai sekali dalam memilih pasar. Aksi diwarnai dengan orang berjualan air minum entah dari kalangan mahasiswa dan masyarakat. Hal ini saya pendang sangatlah wajar, justru membantu. Tidak perlu repot-repot ke sana ke mari mencari seteguk es teh yang sangat pas diminum saat terik.

Kehadiran es teh, es sirup, minuman dingin papaun itu, seolah menolong tubuh karena butuh kesegaran. Para pencari nafkah sudah menghampiri, ini cukup membantu. Harga yang ditawarkan juga tidak terlalu mahal dan masih batas wajar. Terlihat juga dari gedung DPRD ada seorang masyarakat memberikan air minum. Ketika berteduh, seorang satpam menghampiri memperikan air mineral. Ketika akan berjalan berkata “udah mas bawa aja diberikan kepada teman-teman yang lain”. Para mahasiswa berkeliling memberikan air mineral untuk siapa saja yang kehausan.

Baca kelanjutanya,  Apa yang Terjadinya di Aksi Bengawan Melawan ? (2)