![]() |
| Foto : Mahasiswa melaukan aksi damai di Gedung DPRD Surakarta (24/9) | darwisfoundation/Ginanjar Agung Sulistyo |
oleh Linda Rahmawati
Semakin siang, di tengah
kerumunan datanglah seorang yang memakai topeng monyet menghampiri saya.
“Mbak cewe mundur
mbak jangan disini,” disitu
saya kaget. Tidak saya pedulikan apa yang dikatakan. Dia terus membujuk saya
untuk mundur dengan nada tegas bukan kasar. Setelahnya saya mengiyakan kemudian
langsung berteriak “kasih jalan-kasih jalan”.
Ini merupakan aksi
yang cukup menyentuh sati saya. Masih ada rasa saling melindungi. Bahkan
beberapa kawan-kawan memberika komando. Laki-laki membuat pagar pembatas, dan
perempuan masuk d idalam barisan. Kawan-kawan begitu hangat dan saling
melindungi. Entah dari kampus mana kamu berasal. Sudah tentu kebersamaan dan
keamanan harus saling dijaga.
Para mahasiswa masih
bernegosiasi dengan aparat untuk masuk ke gedung DPRD Surakarta. Namun tak lama
saya mendengar suara seng keras sedang dipukul. Langsung saya berdiri dan
melihat darimana sumber suara tersebut. Kawan-kawan mahasiswa langsung
bersenandung lagi untuk saling mengingatkan.
Suasana mulai memanas.
Sebagian mahasiswa bisa masuk kedalam gedung DPRD dan memanjat baliho harornas
2019. Ditutup dengan tulisan tegas keresahan para Mahasiwa. Tepuk tangan
diberikan atas keberanian kawan yang berada diatas sana.
Para kawan-kawan
barisan depan masih bernegosiasi. Entah apa yang dibicarakan karena memang
keterbatan sound yang ada. Dan tak hanya sekali dua kali saya selalu
mendengar suara pukulan seng yang menutup gedung DPRD. Karena memang sedang
tahap pembangunan sehingga depan gedung ditutup dengan seng.
Sekali diingatkan,
diuanglang lagi, dua kali, bahkan hingga tiga kali. Saya melihat orang yang menendang
seng tersebut. Laki-laki kurus, kulit sedikit pekat, berkepala botak, tanpa
almamater. Saya teriak “tenang-tenang”,
kemudian bersama-samana menyanyikan yel-yel agar tidak terprovokasi.
Saat mata saya
palingkan sebentar, orang itu sudah tidak ada di sana. Tidak menau bagaimana
pastiya. Mungkin sudah diamankan oleh mahasiswa yang didikatnya. Setelah itu,
ada beberapa mahasiswa yang mendekat, lalu meperbaiki posisi seng. Di situ saya
tersentuh. Saya melihat betul, para mahasiswa berusaha menjaga aksi agar tetap
damai dan tertib.
Namun suasana tenang
tidak berlangusng lama. Aksi lempar botol terjadi, untungnya masih bisa
diatasi. Hingga akhirnya ricuh mahasiswa dan polisi pun terjadi. Dan terdengar suara
letupan, sampai bom gas air mata. Mahasiwa diintruksikan untuk mundur.
Kawan-kawan berlarian berhamburan kesana kemari.
Saat mahasiswa menepi,
batuk, kesakitan, dengan raut wajah kesakitan berteriak. “Apa salah kami, kami
datang dengan damai, mengapa balasannya seperti ini”. Sangat disayangakan sekali,
perjuangan berujung seperti ini. Tidak dapat dipungkiri, tulisan DPRD memang
rusak. Beberapa fasilitas yang dibangun oleh rakyat sedikit berantakan. Kerusakan
itu tidak sepadan dengan rusaknya hati rakyat. Yang hanya bisa diperbaiki
dengan cara seperti ini.
Dari simpang siur
informasi yang didapat. Kericuhan antar polisi dan mahasiswa terjadi karena
mahasiswa tidak mau diajak diskusi. Ada juga informsasi yang mengatakan ,
ketika DPRD sudah mempersilahkan mahasiswa untuk masuk, kemudian dihadang oleh
polisi. Sampai akhirnya kericuhan terjadi. Aksi pukul-memukul harus diterima
oleh mahasiswa. Ada seorang mahasiswa dikabarkan kepalanya bocor karena terkena
pukulan dari polisi.
Jiakalau ada yang
menyalahkan para mahasiswa dalam aksi silahkan. Jika ada yang membenarkan juga
silahkan. Untuk teman-teman yang bilang buat apa aksi. Dengan lantang kami
menjawab buat Ibu Pertiwi. Tidak bisa langi tinggal diam melihat kondisi negeri
seperti ini.
Jangan menghina
kawan-kawan yang turun ke jalan dengan hinaan status dan twit jahat kalian.
Kawan-kawan yang tidak ikut aksi, tidak tahu kondisi di jalan, lebih baik
kalian diam! Alahkah baiknya kalian bertanya mengapa hal itu bisa
terjadi dan terus menggali informasi. Tidak usah menghujat, tidak usah
memprovokasi. Semua yang turun sedang dalam keadaan tidak mabok. Namun dalam
keadaan penuh dan pemahaman yang mendalam terkait tuntutan aksi #BengawanMelawan.
Jangan hanya melihat
tulisan DPRD yang rusak akibat aksi, namun lihat mengapa itu bisa rusak. Jangan
hanya melihat demo teriak-teriak bikin macet. Solo masih banyak jalan. Kalian
bawa kendaraan bisalah berputar sedikit dalam sehari saja. Ada orang-orang
berbesar hati membela negeri yang berbekal ilmu pengatahuan dan tuntutan logis.
Bukan dengan kawat berduri, bukan juga pentungan besi.
Aspirasi saja
disampaikan dengan sound yang kurang keras, namun kami punya mulut yang tidak
bisa dibungkam. Punya mata yang tidak bisa dibutakan, mempunyai kaki untuk
aksi. Kawan-kawan netizen perlahan junga mengebiri yang aksi. Dengan hujatan
pedas ala-ala netizen indonesia. Hujat pedas saja mereka yang mempersulit semua
ini. Lihat saja kondisi lapangan dan ikut dalam aksi. Rasakan seperti apa kondisi
negeri saat ini. Suasana, udara pengap, solidaritas saling melindungi.
Dengan catatan penting
harus diingat dan diperhatikan seksama. Kawan-kawan yang ikut aksi harus
benar-benar mengetahui apa yang diperjuangan. Mengkaji dengan serius apa yang
telah menjadi tuntutan. Tidak bisa kita menyalahkan dan membenarkan sebelum tahu
bagaimana keadaan sebenarnya.
Saya ikut aksi karena
ini langkah yang bisa saya ambil. Saya memang tak puya uang untuk bagi-bagi
nasi. Namun saya punya hati nurasi untuk Ibu Pertiwi. Jika ada diantara kalian
tidak ikut aksi itu pilihan anda, tidak mengapa. Namun mari perlahan kita jaga
Ibu Pertiwi dengan cara kita masing-masing. Dengan gaya masing-masing,
Indonesia berbeda tapi tetap satu jua. Janga sampai negeri ini hancur karena kita
bungkam. Membiarakn oligakri laluasa bermaun demi kepentingan dirinya sendiri.
Hidup Mahasiswa !!
Tamat - Baca tulisan sebelumnya Apa yang Terjadi di Aksi Bengawan Melawan ? (1)
