![]() |
| credit https://spoilaaa.files.wordpress.com/2015/01/chairil-anwar.jpg |
oleh Dhima Wahyu Sejati
Setelah menonton film The Kinderganter Teacher (2018) garapan
Sara Colangelo. Aku jadi ingat pak Joko, guru bahasa indonesia kelas satu SMA,
ia menulis sebuah puisi yang ciamik.
Tertulis
jelas di whiteboard, ditulis dengan Snowman, "Aku" yang besar tepat
di tengah. Kemudian tangannya semakin mendayu-dayu ke bawah, rupanya Pak Joko
melanjutkan menulis
"Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak
perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar
peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan
bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri,
Berlari
Hingga hilang pedih peri,
Dan aku
akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi"
Aku mau hidup seribu tahun lagi"
Maret 1943
Begitu ia menulis. Aku kemudian melihat muka teman-teman di
kelas, mereka biasa saja. Malah tambah gaduh.
Tapi entah, aku malah sanyam-senyum seperti pertama kali melihat
Yunda waktu SMP. Aku seperti menemukan kebahagian baru. Dari leher sampai ujung
kepala ku merinding.
Aku beruntung, dianugerahi kepekaan itu. Sepertinya hanya aku,
yang membicarakan dan merasakan puisi Chairil Anwar, Si Binatang Jalang.
Bahkan Chairil mampu mengubah kata "jalang" yang
sangat kasar, manjadi merdu nan indah. Sebegitu berkelas pelopor angkatan 45
ini.
Ah, bagaimana penyair sekarang. Sepi sekali peminat. Bagaimana
orang seperti Chairil jika tidak bertemu dengan H.B Jasin, apakah aku bisa
sampai merasakan nestapa dalam syair "Aku ini binatang jalang, dari
kumpulannya yang terbuang". Setiap kali aku membacanya, setelahnya aku
jatuh cinta lagi.
Adakah yang menghargai orang-orang seperti Chairil ? Sekarang
adakah ?
Mungkin benar yang dikatakan Lisa dalam film The Kinderganter
Teacher (2018) ini, " Aku harap kau bisa menghargai betapa berharganya
anugrah itu (bakat penyair), maksudku aku sudah 20 tahun mengajar TK dan belum
pernah melihat bakat seperti itu. Dan aku ingin mendukungnya."
"Bakat (syair) itu sangat rapuh dan sangat jarang. Budaya
kita akan menghancurkan bakat itu.
"Maksudku, anak empat sampai lima tahun datang ke sekolah dengan HP,
hanya ngobrol tentang acara TV dan video game."
"Itu budaya materialistik yang tidak mendukung seni atau
bahasa (syair/puisi)."
Itu adalah
kata Lisa, guru TK kepada pamannya Jimmy, muridnya di sekolah kanak-kanak. Yah,
Jimmy adalah anak ajaib yang mampu membuat puisi dengan ciamik, padahal ia baru
berusia lima tahun.
Orang-orang di sekitar Jimmy, bahkan keluarganya tidak
menghargai bakatnya membuat puisi.
Sampai Lisa
rela menuliskan puisinya di selembar kertas. Hanya Lisa seorang yang berusaha
menyelamatkan bakat Jimmy.
Film ini menunjuk satu framing yang unik. Menghadirkan keadaan
dimana bakat berpuisi tidak dihargai. Aku justru merasakannya di lingkungan
sendiri. Dari SMA sampai sekarang, aku menulis banyak puisi, hanya sekedar
membaca saja tidak.
Sekalipun dibaca hanya menjadi candaan, tidak lebih dari itu.
Apalagi tumbuh budaya kritik sastra yang baik. Tidak mungkin.
Sebagaimana film ini, yang ditutup dengan dialog Lisa, sang guru
dengan Jimmy murid TKnya,
"Kau
tahu Jimmy, dunia ini akan menghapusnya. Tidak ada tempat di dunia ini untukmu.
Untuk orang sepertimu. Dalam beberapa tahun kau akan menjadi... hanya bayangan,
sama sepertiku."
