Dhima Wahyu Sejati
Sepertinya di Twitter lagi ramai isu kebangkitan PKI. Setiap tahun hampir selalu seperti itu. Ingin rasanya mengulas isu itu secara mendetail, namun masih kurang refrensi. Jadi ini alakadarnya.
Kalau sedikit saja membaca sejarah. Akan tahu bahwa sangat sulit kiranya PKI bangkit kembali sebagi partai, seperti halnya PSI (partai sosialis indonesia) dan Masyumi juga hampir tidak mungkin bangkit kembali. Cuma bedanya, PSI dan Masyumi dihabisi di masa demokrasi terpimpin (Sukarno). Sedang PKI dihabisi di masa Orba (Suharto).
Sekarang PKI tidak memiliki basis masa lagi. Keorganisasiannya juga sudah hancur. Sulit kiranya mempercayai kabar PKI bangkit kembali.
Namun komunisme sebagai sebuah paham masih dipelajari dan dianut. Sebagaimana ideologi lain, seperti sosialisme, islamisme, sampai sekarang masih ada dan tetap dikaji.
Teori-teori Karl Marx juga masih dipakai sampai sekarang. Das Kapital, buku karya Kark marx juga wajib dipakai kalau mau membahas kapitalisme.
Di awal semester saya menemukan bukunya D.N Aidit di rak sekretariat salah satu organisasi. Buku itu milik senior saya.
Saya yang juga mahasiswa sosial, sudah pasti mempelajari terori Kalr Marx. Sebab selain bapak ideologi, Karl Marx juga seorang sosiolog ulung. Sedikit teori yang saya pelajari diantaranya ; Teori kelas dan alienasi agama.
Artinya Karl marx juga komunisme, masih dikaji secara akademik di kampus. Apakah dilarang? Apakah haram ?
***
Nuun, sekitar abad pertengahan di Eropa, buku-buku yang dianggap berlawanan di larang beredar. Alhasil kemunduran dan kebodohan langgeng. Abad itu disebut dark ages.
Sedang di belahan bumi lain. Di Baghdad, sebagai tempat pusat pendidikan kala itu, justru menerjemahkan karya para filsuf yunani.
Ilmu pengetahuan, termasuk perbukuan dimerdekakan dari belenggu kekuasan. Para penguasa kala itu hanya menjadi fasilitator; membuat gedung perpustakan dan kampus.
Salah satu fasilitator itu adalah Khalifah Harun ar-Rasyid. Dilangsir dari republik.co.id, ia mendirikan lembaga penerjemahan buku bernama Bayt al-Hikmah (Rumah Kearifan).
Lembaga ini kemudian dikembangkan oleh al-Ma'mun menjadi lembaga pendidikan tinggi, perpustakaan, dan pusat penelitian. Ratusan ribu buku dari Yunani, India, Persia, Byzantium, dan Syria berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Karya-Karya itu dibaca, dibedah, dan dikritisi habis-habisan. Tradisi itu berbuah baik, pada akhirnya dari sana lahir para ilmuwan besar.
Lalu apa kaitannya dengan kajian tentang komunisme ?
Banyak yang takut jika membaca buku kiri akan menjadi komunis. Ketakutan itu bisa jadi berasal dari doktrin buku sejarah SMA kita.
Sebenarnya, dari doktrin negatif itu justru membuahkan rasa takut untuk "belajar". Takut belajar dan mengetahui apa itu komunisme.
Rasa takut yang kemudian menghasilkan ketidaktahuan. Akhirnya, ya seperti ini, setiap tahun isu kebangkitan PKI tak pernah luput dibahas. Sentimen yang tidak produktif turut disertakan.
Rasa takut itu juga turut hadir di kalangan penguasa. Buku yang dianggap kiri disita oleh polisi. Masih ingat isu anarko kemarin? Ada penangkapan salah seorang yang dianggap anarko, dan barang bukti yang disita polisi adalah buku. Salah satunya yang lucu, adalah bukunya Tere Liye, 'Negeri Para Bedebah'.
Kalau mau mundur ke belakang, peristiwa seperti ini juga pernah terjadi. Seperti pada masa demokrasi terpimpin. Buku-buku Buya hamka pernah disita oleh seorang pemuda yang didampingi aparat. Peristiwa ini pernah diceritakan Irfan Hamka dalam buku Ayah miliknya.
Masa Orba juga pernah, masa dimana sentimen PKI mulai naik tansi. Novel-novel milik Pram dilarang diedarkan di pasaran. Lagi-lagi juga karena dianggap berbahaya.
Saat ini, juga sama. Meski tipis tipis (tidak terang-terangan) penyitaan buku masih ada saja. Tidak hanya buku-buku kiri, buku-buku yang dianggap radikal (islam) juga pasti dilarang.
Buku memang hanya media. Menjadi penting karena merupakan media pengetahuan. Banyak para ilmuwan, pemikir dan intelektual menuangkan gagasan pentingnya lewat buku.
Kalau buku di satu tempat dibatasi. Ditentukan oleh penguasa mana yang boleh beredar dan mana yang tidak boleh. Hampir bisa dipastikan kebodohan, kenaifan, akal yang sempit, sumbu pendek, mudah tersinggung, dan gumunan adalah hasil dari jerih payah penguasa melarang peredaran buku. Buku apapun itu, termasuk buku kiri (komunis) atau buku yang dianggap membawa ajaran islam radikal sekalipun.
Intinya, kemerdekaan dalam belajar itu penting. Biarkan orang-orang tahu apa itu komunisme, apa itu PKI. Biarkan buku-buku yang membahas Gerakan 30 September itu beredar. Biarkan banyak versi sejarah tetang siapa dalang dibalik kudeta itu. Biarkan masyarakat mengakses buku tetang pembantaian para tahan politik (PKI).
Biarkan itu semua menjadi diskursus yang membangun. Bukankah ciri masyarakat yang maju adalah kitaka ilmu pengetahuan hidup di tengah mereka?
