Oleh:
Luciana Anggraeni, M.H
(Kandidat Doctoral Melbourne University)
Sudahkah orang tua memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya, perasaan sedih, senang, marah dan gelisah. Anak sebagai manusia mempunyai hak untuk mengekspresikan segala emosi, jika anak ingin menangis kemudian orang tua justru merespon dengan kemarahan maka, anak akan merasa tertekan dan ketakutan yang berujung pada perasaan tidak nyaman berada di dekat orang tuanya sehingga memendam semua emosinya.
Ketidaknyaman inilah yang menimbulkan respon pada diri anak untuk mencari tempat yang nyaman untuk mengungkapkan segala emosi, dan disinilah pencarian dimulai dari luar rumah. Anak akan bertemu dengan banyak teman dengan berbagai macam karakter. Ketika mereka menemukan kenyamanan dengan teman lawan jenisnya, saat itulah perasaan nyaman muncul dan berlanjut pada rasa suka.
Anak yang lahir dengan kepolosannya belum mempunyai banyak pengalaman hidup. Sehingga mereka butuh perhatian, kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. Jika mereka tidak mendapat semua itu di dalam rumah, secara naluriah mereka akan mencari kenyamanan dan perhatian di luar rumah.
Menurut Abraham Maslow dalam teori psikologi terdapat 5 kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri. Jika salah satu kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi, maka berpengaruh pada kelangsungan hidup dan relasi manusia terhadap lingkungannya.
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar manusia secara fisik berupa makan dan minum, atau tingkat lebih tinggi dari kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan rasa aman dan nyaman meliputi rasa aman dari ancaman, ketakutan, kecemasan, tekanan emosional dan sejenisnya. Pemenuhan kebutuhan ini sangat berpengaruh besar terhadap motivasi anak untuk menjalankan segala aktivitas kehidupan sehari hari misalnya belajar.
Sangat disayangkan, kebutuhan rasa aman dan nyaman ini tidak dapat direspon dengan baik oleh orang tua. Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa kebutuhan materi sandang pangan untuk anak sudah cukup dipenuhi maka sudah selesai tanggung jawabnya sebagai orang tua mendidik anak. Tanpa orang tua sadari bahwa kebutuhan psikologis anak terhadap rasa aman dan nyaman juga dibutuhkan.
Jika kebutuhan rasa aman dan nyaman sudah terpenuhi maka akan muncul kasih sayang yang dirasakan oleh anak dari orangtuanya sebagai kebutuhan psikologis yang menempati posisi ketiga dalam teori Maslow. Jika anak sudah cukup merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya maka, seorang anak tidak akan lagi berusaha untuk mencari kasih sayang dari orang lain di luar rumah dengan berpacaran. Maka tidak heran jika fenomena pacaran berbanding lurus dengan meningkatnya angka perceraian di Indonesia karena, sangat sulit bagi seorang anak untuk merasakan kasih sayang jika kedua orang tuanya tidak saling berkasih sayang.
Ketika kebutuhan kasih sayang sudah terpenuhi maka kebutuhan manusia beranjak pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu penghargaan diri. Jika seorang anak sudah merasa cukup dihargai keberadaannya dalam keluarga, maka sang anak tidak lagi mencari perhatian orang lain di luar rumah sehingga tidak haus akan perhatian.
Penghargaan diri akan berpengaruh pada rasa saling percaya antara anak dan orang tua, jika seorang anak merasa tidak pernah dihargai pendapatnya, maka anak tidak mempunyai rasa kepercayaan kepada orang tua sehingga mereka akan mencari orang lain yang dapat dipercaya dan menghargai segala curahan hatinya.
Kebutuhan dasar tertinggi manusia adalah aktualisasi diri. Seseorang akan dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal jika keempat kebutuhan dasar diatas telah terpenuhi dengan baik. Seorang anak dapat memaksimalkan potensi dirinya jika orang tua sudah memenuhi keempat kebutuhan dasar yang telah disebutkan sebelumnya.
Setiap anak mempunyai potensi sesuai kemampuannya, sehingga orang tua sangat berperan penting untuk membimbing anak untuk menemukan jati dirinya. Seorang anak akan fokus pada aktualisasi diri jika sudah mendapatkan rasa aman, kenyamanan, kasih sayang dan penghargaan diri dari orang tuanya. Bagaimana anak bisa fokus mengaktualisasikan diri jika anak masih sibuk mencari rasa aman, kenyamanan, perhatian dan kasih sayang di luar rumah sehingga mereka merasa cukup nyaman dan bahagia dengan pacarnya. Maka sebelum menghakimi anak, perlu kiranya orang tua mengintrospeksi diri sudahkah memenuhi kebutuhan dasar anak di dalam rumah?
Allah mengingatkan dalam ayatnya “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang sabar” (QS. Al-Anfal:28). Anak adalah anugerah sekaligus amanah yang harus dilindungi bukan dihakimi. Rasulullah memberi suri tauladan agar menjaga psikologis anak dengan memperlakukan anak-anak dengan mulia sehingga anak tidak merasa terancam dan dapat tumbuh dengan akhlak yang baik.
Rasulullah pernah menegur seorang pengasuh yang merenggut dengan kasar seorang anak yang kencing di pangkuan Rasulullah, beliau berkata,”kencing yang membasahi bajuku ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menjernihkan kekeruhan hati anak ini dari renggutanmu itu”. Dalam hal ini Rasulullah telah memberikan suatu tauladan bahwa menjaga kesehatan psikologis anak merupakan suatu hal yang prioritas dan jika sudah terluka tidak dapat disembuhkan dengan mudah.
