Ahmad Zia Khakim
Anak-anak millenials sekarang hampir tidak begitu peduli soal "sosok". Tokoh yang sekarang hidup saja mereka kelabakan mencari tahu rekam jejaknya, semoga prespektif saya salah, tapi itulah kenyataanya hari ini.
Beberapa kali saya bergaul dengan mereka millenial yang masih mahasiswa. Mereka kelabakan ketika saya tanya soal beberapa sosok pahlawan. Padahal yang penulis tanya adalah tokoh-tokoh melegenda dan pahlawan nasional. Ditambah jika saya bertanya jauh soal karya-karyanya mereka mereka lebih tidak tahu lagi, sungguh sangat disayangkan, padahal mereka adalah generasi penerus bangsa indonesia dimasa yang akan datang.
Melihat keadaan seperti sekarang ini saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh Peter Carey (2014) yang berpendapat bahwa sebagian besar orang Indonesia kini hidup dalam kekosongan historiografi dan lebih akrab dengan budaya populer dari Barat dibanding warisan budaya mereka sendiri yang unik.
Pernyataan itu tertulis apik di dalam pengantar bukunya berjudul Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) dan Di Bawah Bendera Revolusi karya Ir. Soekarno. Terkait dengan Diponegoro dan Ir. Soekarno ia menunjukkan kepada kita bahwa pahlawan yang telah menjadi nama jalan, universitas, dan stasiun dll.
Autobiografi berjudul Babat Diponegoro setebal 1.151 halaman dan pada pada Juni 2013 diterima oleh Komite Penasihat Internasional UNESCO sebagai salah satu dari 299 naskah dari semua negara di dunia yang masuk daftar ingatan kolektif dunia, DBR (Dibawah Bendera Revolusi) dua jilid, Jilid pertama 700 halaman jilid kedua 766 Halaman. belum lagi karyanya Bung Hatta, Berapa orang Indonesia yang sudah membacanya?
Banyak penelitian menunjukkan bahwa tontonan atau menggunakan istilah Ariel Haryanto (2015) ‘budaya layar’ membentuk identitas masyarakat. Ariel mencontohkan tentang islamisasi dalam budaya layar mampu mempengaruhi kebijakan politik, bahkan undang-undang pada saatnya.
Ariel mencontohkan penggunaan jilbab bagi perempuan yang pada suatu masa tahun 1980-an sempat dilarang penggunaanya di muka umum, di masa yang lain jilbab dibolehkan, sekarang ini bahkan pasukan pengibar bendera di istana negara ada yang mengenakan jilbab.
Bahkan di Provinsi Aceh, jilbab diwajibkan dikenakan bagi perempuan. Perubahan-perubahan tersebut juga ditunjang oleh budaya layar dengan banyaknya film-film bertema Islam seperti karya-karya Deddy Mizwar, Hanung Bramantyo, dll. Ya inilah fakta hari ini mewarnai jagad media kita bangsa indonesia.
Peringatan Tanpa Pemahaman
Imajinasi dan ingatan tentang perjuangan pahlawan, pengorbanannya mampu mengikat kita sebagai bangsa. Ia memiliki fungsi untuk mempersatukan kita. Kita adalah sama-sama anak cucu Dionegoro, Ki Hajar Dewantoto, Hos Tjokroaminoto dll.
Sebuah tontonan mengisi ruang-ruang imajinasi genarasi muda Indonesia. Jika yang menjadi tontonan didominasi pahlawan-pahlawan impor maka imajinasi mereka hanya dipenuhi oleh pahlawan impor tersebut. Dengan demikian daya ikat nasionalisme yang ditimbulkan oleh ingatan pahlawan kita sendiri akan kikis.
Saya ingin menunjukkan persitiwa yang direkam oleh Suara Merdeka pada Oktober 2012 saat pertunjukan tentang Diponegoro di sebuah perguruan tinggi di Semarang. Ternyata hanya sembilan persen mahasiswa yang tahu Diponegoro. Menyedihkan. Kemudian apa yang perlu dilakukan?
Pemerintah perlu mendorong dihadirkannya tontonan yang mengangkat tokoh-tokoh bangsa. Selama ini memang sudah ada film kepahlawanan seperti yang terakhir berjudul Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto garapan Garin Nugroho, namun menim penonton.
Film-film ini harusnya dibantu promosinya oleh pemerintah, kalau perlu para siswa disubsidi agar mampu menonton, atau dikelilingkan di sekolah. Sayangnya pemerintah seperti tidak tahu masalah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menghimbau kepada para guru untuk membaca buku-buku karangan Ki Hajar Dewantoro.
***
Kita teramat biasa menjadi masyarakat yang menyelenggarakan peringatan tanpa pemahaman. Memperingati kemerdekaan tanpa imajinasi perjuangan pahlawan maka tak mampu menjadi obor perjuangan di masa depan.
Termasuk memperingati hari Pahlawan tanpa membaca kisah hidup para pahlawannya. Akibatnya penghayatan kita sebagai bangsa menjadi lemah, jiwa nasionalisme yang lemah adalah ancaman bagi bangsa sendiri.
Selamat hari Pahlawan 10 November 2020
