![]() |
Buku berjudul AKU
karangan Chairil Anwar, tiba-tiba muncul di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Film
jadul tahun 2002 bergenre roman remaja ini awalnya aku remehkan. Sebab nampak
sangat klise; percintaan anak SMA, awalnya benci kemudian jadi cinta, lalu konflik
dengan teman gara-gara pacaran.
Namun ternyata AADC
berhasil bernafas panjang, menurutku bukan karena konfilk berkempanjangan
antara Rangga dan Cinta, atau kisah rindu sendu mereka yang diromantisasi
dengan baik oleh Mira Lesmana dkk, bukan. Bukan juga karena pemeran utama Dian
Sastro yang cantik atau Nicholas Saputra yang berparas menawan nan rupawan,
bukan itu. Sebab waktu itu, Dian dan Nicholas merupakan pendatang baru. Justru
nama mereka menjadi ikonik gara-gara AADC, tentunya dibarengi akting yang
bagus.
Ikhwal yang membuat nafas
AADC panjang adalah Chairil Anwar. Kemunculan scene (adegan) buku
kumpulan puisi berjudul AKU menjadi simbol konkret. Di dalamnya
terhimpun banyak puisi Chairil, membuat romantisme dan konflik antara Rangga
dan Cinta menjadi semakin dramatis. Kenapa demikian?
Bagi pembaca puisi
Chairil, pasti paham nuansa sebagian puisinya yang kelam. Ia menggambarkan
keadaan yang sangat terpuruk. Puisi berjudul AKU merekam jelas nuansa
itu; patah hati, misal dalam bait,“Kalau sampai waktuku/‘Ku mau tak seorang
kan merayu/Tidak juga kau.”
Juga, kebencian terhadap
hidup. Seakan hidup itu layak untuk diumpat sejadi-jadinya. “Aku ini
binatang jalang/Dari kawananya yang terbuang.” Bahkan jika perlu matipun
tak apa, begitu rasanya sampai tertulis dalam bait, “Biar peluru menembus
kulitku/ Aku tetap meradang menerjang.”
Meski hidup penuh dengan
kebencian dan patah hati. Namun ambisi juga terasa di pusinya Chairil ini.
Dan aku akan
lebih tidak perduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Nuansa puisi AKU
milik Chairil ini terasa sepi, sunyi, suram, patah hati, marah, putus asa,
sekaligus ambisius terhadap hidup. Itulah kareakter Rangga yang ada di film
AADC. Kerakter Rangga yang mirip nuansa puisnya Chairil ini, yang menurutku membuat
AADC bernafas panjang.
Di film ini, Rangga adalah
adalah anak SMA yang penyindiri, tidak suka bergaul. Belakangan di film, ia
diceritakan sudah tidak lagi memiliki ibu, bapaknya adalah keluarga
satu-satunya. Bapak Rangga adalah seorang dosen yang menulis desertasi mengenai
bobroknya DPR, hanya karena desertasi itu, ia dan Rangga mendapat teror dari
preman, entah siapa dalangnya. Rangga, tentunya marah dengan keadaan itu. Ia
dan ayahnya merasa tidak aman hidup di Jakarta.
Hingga nanti mereka berdua
harus pindah ke New York, Amerika. Kepindahan yang teramat mendadak ini,
membuatnya terpisah dengan Cinta. Kisah asmara mereka, mulai diuji di babak
ini.
Kisah asmaranya dengan
Cinta, yang diperankan Dian Sastro—karakter wanita di film yang periang dan
menyukai puisi, bermula ketika Rangga tidak sengaja menjatuhkan buku AKU miliknya,
lalu diambil Cinta dan dibawa pulang. Kemudian ia baca sampai menyukai
puisi-puisi Chairil. Kesokanya, ia kembalikan buku itu ke Rangga, sekita itu
keduanya jatuh hati. Singkatnya, meski saling jatuh hati, tidak pernah sewaktu
SMA mereka pacaran.
Meski tidak sepenuhnya
sama, Chairil dan Rangga, sama-sama gagal dalam asmara. Chairil, sampai akhir
hayatnya tidak berhasil mendapat wanita dalam hidupnya. Chairil yang waktu itu
(1943) berusia 21 tahun, tentu punya gejolak asmara tersendiri. Ida adalah
perempuan yang ia sebut di puisi berjudul Ajakan.
“Ida/Menembus
caya/udara tebal kabut/kaca hitam lumut/pecah pencar sekarang...” gambaran Ida seperti cahaya, ia menembus
kabut dan memudarkan warna hitam lumut.
Namun kisah asamaranya
kandas, Chairil kemudian menulis puisi di tahun yang sama berjudul Bercerai.
“Kita musti
bercerai/Sebelum kicau murai berderai...”
“...Bagaimana?/IDA,
mau turut mengabur/Tidak samudra caya tempatmu mengabur”
Begitu juga dengan Rangga,
sampai waktu ia harus ke Amerika, tidak sempat menjalin hubungan asmara dengan
Cinta. Film AADC diakhiri dengan perpisahan dan rasa sakit karena saling
menahan rindu. Perpisahan itu tuntas di bandara dan dipertembal dengan bait
puisi, “karena aku ingin kamu, itu saja”
Kembali lagi di awal,
bahwa nafas film AADC adalah puisi berjudul AKU milik Chairil
Anwar, seorang penyair litas zaman, puisinya melampaui usianya. Tidak heran
AADC nafasnya ikut panjang, sampai-sampai ditunggu para penikmat film, 14 tahun
lamanya, dari 2002 AADC pertama rilis, sampai 2016 AADC 2 rilis kembali.
Penantiaan yang panjang,
meski filmnya tidak sedasyat yang pertama. Mungkin karena nafasnya bukan lagi Chairil
Anwar, melainkan kisah asmara biasa Rangga dan Cinta yang sudah terlanjur tua.
Keyword: AADC, Rangga, Chairil Anwar
