Meski aku belum sepenuhnya konsisten membaca buku, atau belum tergolong sebagai pembaca yang baik. Tapi aku ingin sekali membagi tentang efek dari bacaan yang belum seberapa ini. Bacaan itu pada akhirnya, akan membuat kita berbeda dari orang kebanyakan. Sebab masih sedikit sekali yang membaca buku, padahal dampaknya begitu besar.

Banyak orang berubah, setidaknya sedikit berubah setelah ia membaca buku. Ia punya naluri berfikir yang runtut, juga punya kecenderungan pemikiran yang tajam. hal ini persis terjadi oleh kawan ku, seorang Mahasiswa olahraga di Semarang.

Ia mengaku membaca buku karena kecelakaan. Satu waktu gurunya di kelas ngoceh, agaknya sedikit meremehkan muridnya, sembari ia ngomel, "di kelas ini masa iya, engga ada yang tau Pram, buku-bukunya dulu disita dab dilarang pada masa Suharto."

Mendengar ejekan itu, ia tertarik membaca Pram. Untung yang ia baca adalah buku bagus, yaitu Bumi Manusia. Sebelum sempat Buku Manusia difilmkan dan viral, ia sudah membaca. Satu paragraf ia baca pelan, satu bab ia baca pelan. Makin lama ia baca, makin pusing, sebab entah ia tidak tau maksudnya apa.

Namun rasa penasarannya patut dipuji, meski bingung ia tetap membacanya, hingga ia paham betul apa yang dimaksud, alurnya sampai premis cerita ia dapat. Kosa kata yang kemudian nempel di benaknya "melawan".

Meski kata yang sering ia ucap itu sangat klise. Ia menunjukan satu perbedaan yang mencolok, yaitu cara berfikir. Ini membuatnya menjadi pembeda dari yang lain, yang berfikir biasa biasa saja. Satu lagi, setelah membaca banyak buku keresahanya turut muncul. Keresahan adalah amunisi penting untuk mulai belajar dan berkarya.

Singkatnya, apa yang ia lakukan tidak dilakukan oleh banyak orang. Membaca, seperti barang langka. Jarang sekali orang membaca sambil menunggu bus, atau membaca di dalam kereta. Dalam keseharian kita, membaca seakan adalah kegiatan yang hanya dimiliki oleh ilmuwan. Seakan, orang awam dilarang membaca. 


Keyword: Buku