"Ormas Muhammadiyah, agaknya, kejangkitan dekandensi moral. Karenanya pembaharuan harus segara dilaksanakan terutama dalam bidang pendidikan." (Majalah Panji Masyarakat. No 428 Tahun XXV. 11 April 1984) 

Sebagai warga Muhammadiyah, Dedi Supriyadi, seorang pembaca majalah Panji Masyarakat, nampaknya tidak terima ada yang mencoreng nama persyarikatan. Oleh Dedi pencorentan itu cukup digambarkan dengan gaya berdandan. Lebih lagi dandanan seorang guru, garda terdepan yang harus menegakan nilai-nilai Islam ini harus sopan di muka para murid. Nampaknya Dedi kawatir betul, murid-muridnya ikut berdandan ngawur, tidak mencerminkan seorang Muslim yang baik. Bisa gawat. 

Di benak Dedi, dandan ngawur itu barangkali identik dengan gaya dandan ala barat (eropa). Sedang eropa yang sekuler itu cukup berbahaya bagi seorang muslim. Sekularisme membawa ide pemisahan terhadap agama dalam segala lini kehidupan. Termasuk gaya berdandan, terkhusus mode pakaian, barat dicurigai membawa gaya berpakaian yang sekuler, mereka tidak mengharuskan memakai atribut keagamaan seperti jilbab, atau songkok, itupun kalau kita masukan songkok dalam kategori atribut keagamaan. 

Dedi kawatir betul pakain sekularisme ini juga digunakan oleh Muhammadiyah. "Apakah Muhammadiyah telah bergerak ke arah sekuler?" tanyanya. Pertanyaan tajam ini seakan menghentak Muhammadiyah, sebab sejak awal pakain yang dipakai organisasi terbesar di Indonesia ini jelas Islam. Sebagai warga Muhammadiyah yang baik, Dedi boleh kawatir dan cemburu jikalau sampai perayarikatannya berpaling memakai pakaian lain, yaitu Sekuler. Cemburu ttu sah sah saja, mengingat ciri cinta yang pertama itu rasa cemburu. 

Melalui rasa cinta itu, ia boleh dan sangat otoritatif menghimbau para ulama,  cendikiawan, dan pendukung Muhammadiyah untuk senantiasa menegakkan hukum Islam. Sungguh himbauan yang berharga. Para ulama dan cendekiawan bakal tertegun membaca himbauan Dedi di Panji Masyarakat ini, sebab kan para ulama dan cendekiawan sudah sewajarnya punya sifat rendah hati, sehingga mau menerima himbauan seorang (yang mungkin) dari kalangan warga sipil.

Saya pun ikut menghimbau kepada cendekiawan, ulama, sekalian aktivis Muhammadiyah, mohon himbauan Dedi itu digubris. Itu semua demi "mengembalikan citra Muhammadiyah". Citra itu tercecer hilang di jalan gara-gara gaya berdandan seorang ibu pengajar di sekolah Muhammadiyah tidak menunjukan muslimah (sungguhan).

Keyword: Majalah Panji Masyarakat, Muhammadiyah, Citra, Sekuler