Saya termasuk peminat bacaan rubrik resonansi di Republika. Hampir setiap pagi saya pastikan mencari-cari koran untuk saya santap sebagai menu sarapan, meskipun pekerjaan menanti. Kali ini Ahmad Syafii Ma'arif putra Minang mengangkat novel RSK (Robohnya Surau Kami) antologi yang memuat sepuluh cerpen.
RSK paling mengigit dan menyentak perhatian publik sekaligus melambungkan nama Navis di langit sastra sebagai sastrawan nasional, ia mengambarkan sosok seorang kakek yang seluruh kehidupannya dihabiskan untuk kepentingan surau yang dijaga dan dirawat dengan baik.
Siang malam si kakek tinggal di situ. Ia tak memikirkan kawin apalagi punya anak. Nafas yang sudah kembang kempis semata-mata hanya diperuntukkan beribadah dan mengabdi kepada Tuhan dan surga yang dijanjikan.
Paham agama yang menancap di hati kakek itu justru dipersoalkan tajam oleh Navis, hidupnya yang berbelas kasihan dan sedekah dari masyarakat karena ia tak punya mata pencaharian yang tetap.
Titik terparah dari si kakek adalah akhirnya menggorok lehernya sendiri, dengan pisau cukur setelah mendengar dari cerita dari Ajo Sidi tentang Haji Saleh yang seluruh hidupnya juga hanya beribadah persis seperti si kakek.
Navis membongkar peta sosial keagamaan dengan menjadikan kasus di Ranah Minang sebagai titik berangkat. RSK adalah gambaran drama kehidupan yang berujung tragis, paham keagamaan yang tidak berimbang dapat memicu bencana, paham ini meyakini bahwa untuk meraih surga yang dibayangkan tak memerlukan kerja keras di muka bumi, tentu ini salah kaprah. Saya berharap hari-hari ini tak lagi ada, semoga!
Boleh jadi Si Kakek dalam cerita RSK, tak membaca ayat 24 surah Al-Anfal, "wahai orang-orang yang beriman penuhilah panggilan Allah dan rasul, apabila ia (rasul) telah memanggilmu kepada apa yang menghidupkan kamu."
Hamka menafsirkan makna hidup dalam ayat ini, "sebab segala perintah yang diturunkan Allah kepada kita ialah untuk membuat kita semakin hidup dan hidup, yakni hidup yang sesuai dengan kita sebagai manusia. Kadang-kadang ada yang berusia sampai seratus tahun, tetapi hidupnya kosong, sama dengan mati.
Sebaliknya ada orang yang tewas karena mempertahankan nilai hidup, maka hiduplah dia berpuluh bahkan beratus tahun, walaupun badannya telah hancur di dalam tanah." (Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz IX. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984, hlm 282).
Alam indonesia yang kaya raya di jagad khatulistiwa yang ramah dan nyaman, masih bertebaran kemiskinan di mana-mana. Ketimpangan pendapatan masih sangat ketara, bahkan makin hari makin menga-nga. Mari bergegaslah wahai manusia indonesia.
__________________________________________________________________________
oleh. Ahmad Zia Khakim.
Lawyer (Law Office Ahmad zia Khakim & Partner) Penikmat Sastra sosial, Abdi Revolusi.
