Hana Hanifah Atsil H, 
Mahasiswa FAB IAIN Surakarta

Perlu kuberitahu, tulisan ini bukan berisi kisah orang yang bereinkarnasi dari tumbuh tumbuhan menjadi manusia. Bukan juga berisi tata cara merubah hewan menjadi manusia. Tidak asing bagimu jika membaca kata “manusia”, bahkan kamu sendiri pun manusia. Tidak mungkin juga jika bukan manusia yang dapat membaca tulisanku ini. Kecuali makhluk halus yang turut ikut membaca disampingmu. 

Coba kamu tengok ke kanan dan ke kiri siapa tau sedang tersenyum kepadamu. Mungkin kamu dapat menebak apa yang akan aku tulis dalam paragraf ini. Aku tidak akan berbicara sesuatu yang berat hingga membebani atau memaksamu untuk berpikir dalam, seperti membicarakan politik kapitalis atau komunis. 

Gerakan kiri dan kanan atau pembantaian Holocaust di masa Aldoft Hitler. Tidak, aku tidak akan membawamu untuk berpikir keras. Mungkin tulisan ini akan sedikit menyenggol hati nuranimu. Aku ingin mengajakmu untuk memperhatikan hal-hal kecil yang ada disekelilingmu. Benar, hal-hal sederhana saja. Hal-hal sederhana yang akan memulai kita untuk belajar menjadi manusia yang seutuhnya.

Sejak kecil kita dilahirkan dengan berbagai macam keunikan, kerakteristik dan perbedaan. Bahkan dengan saudara kita sendiri pasti memiliki perbedaan yang mencolok. Ketika pertama kali menginjakkan kaki dibangku sekolah kita bertemu dengan kawan-kawan baru, yang sudah pasti penuh dengan keragaman. 

Hingga kita dewasa, bahkan dimanapun selalu dihadapkan dengan segala perbedaan. Entah itu suku, ras, warna kulit, karakter dan sifat teman-teman kita bahkan hal yang kecil, seperti cara berpakaian, selera musik, pilihan hidup hingga perbedaan prinsip hidup. Tapi ada satu hal yang terlupa, lupa diajarkan atau bahkan lupa caranya untuk menerima keragaman tersebut.

Menganggap selera musik seseorang rendahan hanya karena seleranya tak seperti standar selera musikmu yang kamu labeli keren. Memberi cap buruk kepada cara berpakaian seseorang karena tidak sesuai dengan standar caramu berpakaian. 

Atau bahkan secara tidak sadar, hatimu sedang gundah bahwa yang kamu cap buruk itu pantas sekali berpakaiaan seperti itu, sedangkan dirimu tidak. Lebih parahnya lagi berani sekali menjadikan penampilan sebagai tolak ukur utama untuk menilai kepribadian dan kehidupannya, padahal belum pernah mengenal atau berbincang sekalipun. 

Bagi beberapa orang, berpakaian merupakan bentuk pengekspresian diri atau bahkan kenyamanannya dalam hal berpakaian. Terkadang tanpa sadar seringkali memaksakan pilihan hidup orang lain agar sesuai dengan standar hidup kita, bahwa pilihan dan pandangan hidupmulah yang paling benar. 

Perlu diketahui apa yang pantas dan baik untukmu belum tentu baik untuk orang lain. Kita kerap kali memberi saran tanpa diminta namun terkadang agak cenderung memaksakan kehendak diri. Memberi saran memang bagus, tapi bukan berarti dirimu memiliki hak atas hidup orang lain dengan memaksakan kehendakmu agar orang lain menjadi seperti standarmu.

Bukankan pelangi indah karena bermacam warnanya? Bukankah pelangi akan terlihat aneh jika hanya ada satu warna saja? 

Sebenarnya tinggal kita mau menerima atau tidak dengan segala hal yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, mau terbuka atau tidak dengan segala warna-warni yang indah ini jika kita mau memandangnya dari sisi yang lain. 

Setiap warna punya keindahan dan tempatnya masing-masing. Begitupun juga manusia, semuanya punya kelebihan dan kekurangan, yang sudah pasti semua manusia itu unik dengan caranya sendiri. Tergantung seseorang itu dapat menemukan dan melihat keunikan yang ada dalam dirinya atau tidak. 

Dalam kehidupan sehari-haripun kita dihadapkan persoalan yang sudah sangat umum terjadi di lingkungan kita. Bahwa warna kulit yang lebih terang akan lebih mendapatkan privilige. Bagaimana bisa persoalan warna kulit dapat memberikan keuntungan? 

Memang begitu kenyataannya. Sewaktu masa remaja aku ingat, pernah menjejerkan tanganku dengan kawan kawanku lalu kita beramai-ramai melihat warna kulit siapa yang paling putih. Tak jarang kawanku yang berkulit gelap akan bertanya “Wah kulitmu putih, pakai apa?” lalu berlomba lomba memutihkan kulit agar seperti orang asia timur. 

Sebenarnya tidak ada salahnya memutihkan kulit, yang menjadi masalah adalah ketika memutihkan kulit untuk mengikuti standar bahwa berkulit putih itu lebih pantas sampai memaksakan bahkan merugikan diri sendiri. Karena berkulit gelap dianggap jelek, sedangkan berkulit putih itu akan dianggap lebih unggul. 

Bukankah hitam atau gelap belum tentu kotor, dan yang putih belum tentu suci? Menurut kondisi geografis kita tinggal di benua Asia Tenggara, di Indonesia yang beriklim tropis, rata-rata warna kulit penduduknya sudah pasti berkulit sawo matang atau kuning langsat.

Sejak lahir kita tidak diberi pilihan oleh Sang Pencipta untuk terlahir sebagai bangsa apa, siapa orangtua kita apa warna kulit kita, bahkan bentuk fisik dan jenis kelamin kita sendiri. Selama hidup kita mungkin tanpa sadar pernah menyombongkan diri karena memiliki kulit yang lebih terang lalu mengadili yang berkulit lebih gelap. 

Tidak jarang aku menemui seseorang mengeluh kepada lawan bicaranya bahwa dirinya gemuk. Dengan nada sedikit sedih, lalu matanya menelusuri tubuh orang yang ada didepannya. Padahal jika dilihat dengan mata, jelas tubuhnya lebih kurus dari seseorang yang ia ajak bicara. 

Entah apa maksudnya, tapi yang aku tau seseorang seperti itu sedang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Mencari validasi untuk mengobarkan api yang sudah padam dalam dirinya, namun dengan cara merendah untuk meroketkan diri. Mungkin hal itu terlihat sepele tapi bukankah seperti itu justru memperlihatkan bagaimana ia mempermalukan dirinya sendiri.

Sudah ketika dilahirkan tidak diberi pilihan untuk menjadi seperti apa, bukankah sepantasnya kita sebagai manusia seharusnya menghargai dan menghormati itu? 

Sebagai manusia kita terkadang lupa, seringkali mengadili, menyombongkan diri, merendahkan orang lain, menebar kebencian hanya karena hal-hal yang tidak masuk akal. Padahal semua manusia sama ketika dihadapan Tuhannya, hanya akan menjadi sebutir debu jika Tuhan sudah berkehendak. 

Memang pada dasarnya manusia tidaklah sempurna, namun diantara makhluk lain manusialah yang paling sempurna, diberi akal untuk berpikir dan berbudi pekerti. Dibalik ketidaksempurnaan itu ada kata sempurna yang melekat dalam diri manusia, sepantasnya kita berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya. 

Untuk saling menghargai sesama, berusaha untuk lebih banyak memahami sebelum menilai sesuatu. Terkadang kita tak pernah benar-benar tau apa yang sebenarnya. Saling belajar memanusiakan manusia entah itu orang lain maupun diri kita sendiri. Aku yakin, setiap orang pernah melakukan kesalahan, tapi yang terpenting adalah mau atau tidaknya belajar dari kesalahan tersebut.